Tampilkan postingan dengan label PROPAGANDA DAN PSYWAR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PROPAGANDA DAN PSYWAR. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Maret 2012

RUANG LINGKUP PROPAGANDA


Propaganda


Propaganda (dari bahasa Latin modern: propagare yang berarti mengembangkan atau memekarkan) adalah rangkaian pesan yang bertujuan untuk memengaruhi pendapat dan kelakuan masyarakat atau sekelompok orang. Propaganda tidak menyampaikan informasi secara obyektif, tetapi memberikan informasi yang dirancang untuk memengaruhi pihak yang mendengar atau melihatnya.
Propaganda kadang menyampaikan pesan yang benar, namun seringkali menyesatkan dimana umumnya isi propaganda hanya menyampaikan fakta-fakta pilihan yang dapat menghasilkan pengaruh tertentu, atau lebih menghasilkan reaksi emosional daripada reaksi rasional. Tujuannya adalah untuk mengubah pikiran kognitif narasi subjek dalam kelompok sasaran untuk kepentingan tertentu.
Propaganda adalah sebuah upaya disengaja dan sistematis untuk membentuk persepsi, memanipulasi alam pikiran atau kognisi, dan memengaruhi langsung perilaku agar memberikan respon sesuai yang dikehendaki pelaku propaganda.
Sebagai komunikasi satu ke banyak orang (one-to-many), propaganda memisahkan komunikator dari komunikannya. Namun menurut Ellul, komunikator dalam propaganda sebenarnya merupakan wakil dari organisasi yang berusaha melakukan pengontrolan terhadap masyarakat komunikannya. Sehingga dapat disimpulkan, komunikator dalam propaganda adalah seorang yang ahli dalam teknik penguasaan atau kontrol sosial. Dengan berbagai macam teknis, setiap penguasa negara atau yang bercita-cita menjadi penguasa negara harus mempergunakan propaganda sebagai suatu mekanisme alat kontrol sosial.

Definisi Propaganda
Definisi Propaganda Modern
Propaganda adalah usaha dengan sengaja dan sistematis, untuk membentuk persepsi, memanipulasi pikiran, dan mengarahkan kelakuan untuk mendapatkan reaksi yang diinginkan penyebar propaganda.
—Garth S. Jowett and Victoria O'Donnell, Propaganda And Persuasion
  • Jacques Ellul mendefinikan propaganda sebagai komunikasi yang “digunakan oleh suatu kelompok terorganisasi yang ingin menciptakan partisipasi aktif atau pasif dalam tindakan-tindakan suatu massa yang terdiri atas individu-individu, dipersatukan secara psikologis dan tergabungkan di dalam suatu kumpulan atau organisasi.” Bagi Ellul, propaganda erat kaitannya dengan organisasi dan tindakan, yang tanpa propaganda praktis tidak ada.
  • Dalam Everyman's encyclopedia, propaganda merupakan suatu seni untuk menyebarkan dan meyakinkan suatu kepercayaan, khususnya kepercayaan agama atau politik.
  • Leonard W. Dobb, sebagai pakar opini publik, menyatakan bahwa propaganda merupakan usaha-usaha yang dilakukan oleh individu-individu yang berkepentingan untuk mengontrol sikap kelompok termasuk dengan cara menggunakan sugesti, sehingga berakibat menjadi kontrol terhadap kegiatan kelompok tersebut.
  •  
  • Jozef Goebbels, Menteri Propaganda Nazi di zaman Hitler, mengatakan: "Sebarkan kebohongan berulang-ulang kepada publik. Kebohongan yang diulang-ulang, akan membuat publik menjadi percaya." Tentang kebohongan ini, Goebbels juga mengajarkan bahwa kebohongan yang paling besar ialah kebenaran yang diubah sedikit saja.

Tipologi Propaganda

Propagandis mencoba untuk mengarahkan opini publik untuk mengubah tindakan dan harapan dari target individu. Yang membedakan propaganda dari bentuk-bentuk lain dari rekomendasi adalah kemauan dari propagandis untuk membentuk pengetahuan dari orang-orang dengan cara apapun yang pengalihan atau kebingungan.
Propaganda adalah senjata yang ampuh untuk merendahkan musuh dan menghasut kebencian terhadap kelompok tertentu, mengendalikan representasi bahwa itu adalah pendapat dimanipulasi. Metode propaganda termasuk kegagalan untuk tuduhan palsu.
Propaganda dapat digolongkan menurut sumbernya:
  • "Propaganda Putih" berasal dari sumber yang dapat diidentifikasi secara terbuka.
  • "Propaganda Hitam" berasal dari sumber yang dianggap ramah akan tetapi sebenar-benarnya bermusuhan.
  • "Propaganda Abu-Abu" berasal dari sumber yang dianggap netral tapi sebenarnya bermusuhan.
Propaganda telah berkembang dalam perang psikologis di mana propaganda menemukan ekstensinya.
  • Propaganda Politik yaitu melibatkan usaha pemerintah, partai atau golongan untuk pencapaian tujuan strategis dan taktis.
  • Propaganda Sosiologi yaitu melakukan perembesan budaya kemudian masuk ke dalam lembaga-lembaga ekonomi, sosial dan politik.


Komponen Propaganda
  1. Pihak yang menyebarkan pesan, berupa komunikator, atau orang yang dilembagakan/lembaga yang menyampaikan pesan dengan isi dan tujuan tertentu.
  2. Komunikan atau target penerima pesan yang diharapkan menerima pesan dan kemudian melakukan sesuatu sesuai pola yang ditentukan oleh komunikator.
  3. Pesan tertentu yang telah dirumuskan sedemikian rupa agar mencapai tujuannya dengan efektif.
  4. Sarana atau medium yang tepat dan sesuai atau serasi dengan situasi dari komunikan.
  5. Kebijaksanaan atau politik propaganda yang menentukan isi dan tujuan yang hendak dicapai.
  6. Dilakukan secara terus menerus.
  7. Terdapat proses penyampaian gagasan, ide/kepercayaan, atau doktrin.
  8. Mempunyai tujuan untuk mengubah opini, sikap, dan perilaku individu/kelompok, dengan teknik-teknik memengaruhi.
  9. Kondisi dan situasi yang memungkinkan dilakukannya kegiatan propaganda yang bersangkutan.
  10. Menggunakan cara sistematis prosedural dan perencanaan.
  11. Dirancang sebagai sebuah program dengan tujuan yang kongkrit untuk memengaruhi dan mendorong komunikan melakukan sesuatu yang sesuai dengan keinginan atau pola yang ditentukan oleh komunikator.
Sejarah Propaganda
Propaganda Kuno
Propaganda sudah ada sejak awal terdokumentasinya sejarah manusia. Inskrpsi Behistun (515 SM) yang menggambarkan kenaikan Darius I ke tahta Persia merupakan contoh propaganda awal. Arthashastra yang ditulis oleh Chanakya (350 - 283 SM), profesor di Universitas Takshashila, membahas propaganda secara detail, termasuk cara menyebarkan propaganda dan pemakaiannya dalam peperangan. Muridnya, Chandragupta Maurya (340 - 293 SM), menggunakan cara-cara ini untuk mendirikan dan menjadi pemimpin Kekaisaran Maurya. Tulisan karya penulis Romawi Kuno seperti Livy (59 SM - 17 M) dianggap propaganda pro-Romawi yang hebat. Contoh lain adalah The War of the Irish with the Foreigners abad ke-12, oleh para Dál gCais yang menggambarkan mereka sebagai penguasa sejati Irlandia.
Pergeseran Makna
Pada abad ke-17 Gereja Katolik Roma mendirikan the congregation de propaganda (sebuah usaha untuk mempropagandakan kepercayaan tersebut) namun kalimat ini menjadi berkonotasi negatif (bermakna negatif) saat diterapkan pada abad ke-20.
Beberapa hal yang dianggap memiliki kedekatan hubungan dengan propaganda adalah kesalahan informasi seperti inflasi bahasa dan penggelembungan bahasa yang disebarluaskan.
contoh:

* Perang antara Amerika Serikat vs Irak
  • Perang dingin antara CIA dan Soviet
  • Orde baru: Dwifungsi ABRI, Mayoritas Tunggal, Asas Tunggal, Sakralitas Pancasila dan UUD'45
Sifat Propaganda
  1. Tertutup/terselubung.
  2. Terbuka.
  3. Pada awal tertutup akan tetapi lambat laun mulai terbuka.
Jenis Propaganda
  1. Propaganda Agitasi bertujuan agar komunikan bersedia memberikan pengorbanan yang besar bagi tujuan yang langsung, mengorbankan jiwa mereka dalam usaha mewujudkan cita-cita.
  2. Propaganda Vertikal dengan melalui media massa.
  3. Propaganda Horisontal dengan melalui komunikasi interpersonal dan komunikasi organisasi dibanding komunikasi massa.
  4. Propaganda Integrasi dengan penanaman doktrin.
Sistem Propaganda
  1. Penggunaan simbol-simbol agar komunikan tidak tersadar dengan arah dan tujuan dari keinginan komunikator
  2. Penggunakan fakta sebagai alat pemaksa agar komunikan menerima pesan dan melakukan tindakan seperti apa yang diharapkan oleh komunikator
Metode Propaganda
  1. Metode Koersif, sebuah komunikasi dengan cara menimbulkan rasa ketakutan bagi komunikan agar secara tidak sadar bertindak sesuai keinginan komunikator
  2. Metode Persuasif, sebuah komunikasi dengan cara menimbulkan rasa kemauan secara sukarela bagi komunikan agar secara tidak sadar dengan seketika dapat bertindak sesuai dengan keinginan komunikator
  3. Metode Pervasif, sebuah komunikasi dengan cara menyebarluaskan pesan serta dilakukan secara terus menerus/berulang-ulang kepada komunikan sehingga melakukan imitasi atau menjadi bagian dari yang diinginkan oleh komunikator


Hubungan Antara Iklan, Humas, Dan Propaganda

Dalam bidang periklanan atau kehumasan untuk tujuan komersial, bisa jadi sesuatu itu bukan murni propaganda, namun dapat mengandung elemen propaganda saat pesan bertujuan untuk menyesatkan penerima pesan dengan menyembunyikan:
  • Sumber informasi
  • Tujuan informan
  • Sisi lain cerita (hanya satu pihak)
  • Konsekuensi saat pesan ini diadopsi.
Etika Komunikasi Persuasif
Untuk menghindari propaganda, praktisi humas memiliki beberapa Etika Komunikasi Persuasif yang diperkenalkan oleh Prof. Richard L. Johannesen dari Northen Illinois University dimana mereka diberikan seperangkat pemilah untuk membedakan mana yang diperbolehkan dalam pesan membujuk dan mana yang dilarang dan termasuk propaganda.

Teknik-Teknik Propaganda
  1. Pemberian julukan (Name calling) adalah penggunaan julukan untuk menjatuhkan seseorang, istilah, atau ideologi dengan memberinya arti negatif.
Cap PKI pada penduduk desa tertentu. (Berakibat penduduk tersebut ditangkap karena menganut ideologi yang dilarang pada masa pemerintahan orde baru)
  1.  Bandwagon adalah penyampaian pesan yang memiliki implikasi bahwa sebuah pernyataan atau produk diinginkan oleh banyak orang atau mempunyai dukungan luas.
oJutaan orang mendukung aborsi (perhatikan bahwa jumlah orang dan lokasi tidak dinyatakan secara spesifik).
oSemua dokter gigi menggunakan Oral B (perhatikan bahwa jumlah dan lokasi tidak dinyatakan secara spesifik).
  1. Teknik transfer adalah suatu teknik propaganda dimana orang, produk, atau organisasi diasosiasikan dengan sesuatu yang mempunyai kredibilitas baik/ buruk.
Sampoerna Hijau, enaknya rame-rame (baca: rokok diasosiasikan dengan persahabatan)
  1. Tebang pilih (Card stacking) adalah suatu teknik pemilihan fakta dan data untuk membangun kasus dimana yang terlihat hanya satu sisi suatu isyu saja, sementara fakta yang lain tidak diperlihatkan.
  2. Penyamarataan yang berkilap (Glittering generalities) adalah teknik dimana sebuah ide, misi, atau produk diasosiasikan dengan hal baik seperti kebebasan, keadilan, dan demokrasi.
Marlboro citarasa Amerika sejati
  1.  Plain folks adalah salah satu teknik propaganda yang menggunakan pendekatan yang digunakan oleh seseorang untuk menunjukkan bahwa dirinya rendah hati dan empati dengan penduduk pada umumnya.
    • Cara ini banyak digunakan untuk kampanye untuk memperoleh kekuasaan politik (kursi presiden, bupati, pemerintah daerah). Biasanya acara telah dirancang sedemikian rupa saat individu yang dicalonkan lewat, maka ia akan mencium bayi, bersalaman dengan orang biasa, hingga memeluk orang papa.
  2. Kesaksian (testimonial) adalah salah satu teknik propaganda yang paling umum digunakan dimana ditampilkan seseorang yang untuk bersaksi dengan tujuan mempromosikan produk tertentu, kadang-kadang dalam kesaksiannya orang yang sama menjelek-jelekkan produk yang lain.

·         Sumber                           : Wikipedia
·         Diolah kembali oleh         :  Basri Yusuf

Kamis, 22 Maret 2012

SEJARAH PROPAGANDA

SEJARAH  PROPAGANDA

Kegiatan Propaganda di masa Kerajaan Persia Kuno

Propaganda sudah ada sejak awal terdokumentasinya sejarah manusia. Contoh awal propaganda bermula dari  Inskripsi Behistun (515 SM) yang menggambarkan kenaikan Darius I ke tahta Persia

Inkripsi Behistun adalah sebuah otobiograpfi yang ditulis atas perintah Darius I,  yaitu otobiografi mengenai dirinya dan berbagai keberhasilan pembangunan, baik di bidang ekonomi, politik, militer dan lain lain. Semuanya menggambarkan bagaimana sosok sebenarnya dari Darius I dan kepemimpinannya.
Pembahasan propaganda secara detail termasuk cara penyebaran propaganda dan pemakaiannya dalam peperangan ditulis oleh Chanakya (350-283 SM) seorang professor dari Universitas Takshashila yang berjudul Arthashastra. Selanjutnya menurut  Chanakya, salah seorang muridnya yang bernama  Chandragupta Maurya (340-293 SM) menggunakan cara cara ini untuk mendirikan dan menjadi pemimpin Kekaisaran Maurya. Sebagai pendiri kekaisaran Maurya, Chandragupta berhasil menyatukan hampir seluruh sub benua India dan ia dianggap sebagai penyatu India yang pertama.
Tulisan karya penulis Romawi Kuno, seperti Livy (59 – 17 SM) dianggap sebagai suatu karya yang hebat tentang propaganda pro Romawi. Contoh lain adalah The War of the Irish with Foreigners abad ke 12   yang oleh para  Dal gCais yang menggambarkan mereka sebagai penguasa sejati Irlandia.

Kegiatan Propaganda pada Zaman Mesir Kuno

Menurut Paul Brunton dalam karangannya yang berjudul “The Secret of Egypt’, menyatakan bahwa masyarakat Mesir kuno berkeyakinan bahwa rajanya adalah Keturunan Dewa Matahari yang diberi nama RA. Karena itu tidak mengherankan bahwa setiap pagi rakyat Mesir Kuno memberi hormat kepada matahari.
Raja Mesir yang disebut secara umum Pharao atau Firaun mempunyai kekuasaan yang luar biasa. Untuk itulah, maka makam makam raja Mesir dibuat sedemikian rupa yang dikenal dengan nama Piramida. Diantara sekian banyak Piramida, maka piramida di Giza tempat bersemayamnya jasad raja Khupu atau Cheops yang memerintah pada tahun 2590 sampai dengan 2568 SM adalah merupakan piramida terbesar. Disamping itu masih terdapat patung dari Raja Ramses II yang dibuat sekitar 3200 tahun yang lalu yang terdapat di padang pasir Nubia. (sewaktu pembangunan bendungan Aswan, patung ini dipindahkan lebih kurang 220 feet dari tempat aslinya.


Ditinjau dari segi Ilmu Komunikasi, maka piramida, mummy  dan patung yang telah dibuat ribuan tahun yang lalu adalah  merupakan lambang lambang propaganda, baik dilihat dari segi kebudayaan, peradaban, otoritas maupun kebesaran pemerintahan  Mesir Kuno.

Kegiatan Propaganda pada Zaman Yunani Kuno

Di masa Yunani Kuno para pengajar propaganda adalah  Corax dan Tisias, dinyatakan demikian karena mereka berdua inilah yang meletakkan dasar ilmu rethorica pada waktu itu, yang kemudian berkembang sesuai dengan kebutuhan, kondisi dan situasi yang berpengaruh terhadap ilmu tersebut.
Selanjutnya Aristoteles melengkapi karya Corax dan Tisia dengan pendapat dan pandangannya yang antara lain menyangkut kepada aspek kejiwaan. Aristoteles memusatkan pandangannya kepada aspek Emosi sebagai tujuan dari Rethorica.
Ahli rethorica terbesar pada waktu itu adalah Georgias dari Leontini yang datang di Athena pada tahun 427 SM. Sedangkan ahli rethorica yang sangat berpengaruh karena menerapkan teknik “appeal to emotion” adalah Thrasy Macines Prodicius yaitu tentang pilihan kata kata yang tepat untuk dipergunakan; Theodorus  dari Byzantium dengan tekniknya mengklasifikasikan bagian pidato yang harus ditonjolkan dan Antipan yang berhubungan dengan model model pidato.

Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa pada masa sebelum tahun masehi, para ahli rethorica telah berusaha untuk memfokuskan berbagai aspek yaitu :
1.       Keilmiahan dalam Rethorica.
2.       Appeal to emotion
3.       Pemilihan kata kata yang tepat/serasi
4.       Klasifikasi terhadap bagian bagian penting dari suatu pidato.
5.       Penyajian model model pidato.
Dengan kata lain di masa Yunani, pidato merupakan sarana propaganda yang penting telah mendapat perhatian dan pengkajian yang luas dan mendalam.

Patung Aristoteles.





















Plato (428-347 SM) dan Aristoteles (384-322 SM merupakan dua filsuf Yunani terbesar yang telah memberikan perhatian besar terhadap kegiatan propaganda.
Plato (428-347 SM)

Plato dalam karyanya “Republica” telah mengemukakan saran saran yang terperinci mengenai “apa yang boleh” dan “apa yang tidak  boleh” dikatakan kepada penduduk mengenai gagasan tentang “City state” yang dicita citakannya.  Tujuan dari saran itu adalah untuk menjamin kesetiaan penduduk, dengan alasan agar mereka tidak mendengar pandangan dan pendapat lain, kecuali dari pihak pemerintahnya.
Oleh karenanya Plato dapat dianggap sebagai orang pertama yang menganjurkan adanya “sensor” untuk kepentingan keamanan Negara. Karena gagasan inilah menyebabkan Plato menjadi korbannya.
Aristoteles dalam karyanya “Rethorica” telah menjadikan buku Republica karya Plato tersebut  sebagai pedoman untuk propaganda yang pertama, yaitu sarana sebagai alat untuk membujuk dengan menggunakan Rethorica atau seni berpidato.
Walaupun pada awalnya seni berpidato itu oleh Aristoteles hanya  digunakan dalam sidang sidang pengadilan yang berfungsi untuk menghukum dan membela, namun kemudian penggunaannya berkembang di bidang politik dengan fungsi untuk melakukan pembujukan terhadap rakyat banyak agar dapat menerima pandangan dan pendapat pembicara. Selain itu juga bertujuan untuk menghilangkan kepercayaan penduduk umum terhadap pihak lawan.

Kegiatan Propaganda pada Zaman Romawi

Salah satu kegiatan propaganda di zaman Romawi dalam usaha mempengaruhi pendapat umum adalah menyelenggarakan acara arak arakan yang disebut “Triumph”, yaitu satu acara arak arakan bersifat pesta ria/festival untuk menyambut kemenangan para Panglima Roma yang kembali dari peperangan  dengan membawa hasil kemenangan berupa segala harta rampasan dan budak budak sebagai tawanan.
Penyelenggaraan “Triumph” dimaksudkan untuk mempengaruhi penduduk Roma tentang kebesaran  dan kkeagungan imperium Romawi.


Dalam perkembangan sejarah agama Kristen telah timbul bentuk kegiatan propaganda yang lain, yaitu berupa kegiatan para Apostel yang memasuki dan menjelajahi daerah daerah diseluruh penjuru angin dengan menghotbahkan kebesaran dan kesucian tuhan.
Salah  satu episode yang terpenting dalam kegiatan Propaganda di zaman itu adalah dibentuknya suatu Majelis Tabligh di kota Roma oleh Paus Gregoreus XV pada tahun 1622, yang disebut “Sacra Congregatio de Propaganda Fide” (Majelis Suci untuk mempropagandakan Agama). Di majelis berkumpul para cardinal yang bertugas merumuskan metode untuk kegiatan Propaganda Agama dan mengawasi buku buku Liturgis serta membahas laporan laporan para uskup dan pejabat pejabat agama lainnya di luar negeri.
Menurut L Fraser dalam bukunya “Propaganda" mengemukakan bahwa yang membentuk majelis tersebut adalah Paus Gregorius XIII, sedangkan Emory S Bogardus dalam tulisannya yang berjudul “The Making of Public Opinion” menyatakan bahwa yang membentuk majelis tersebut adalah Paus Gregorius XV  pada tahun 1622.
Adanya penyebaran agama dengan bentuk dan pola kegiatan Propaganda tersebut diatas, disebabkan ketika aliran Katholik tengah menghadapi dua hal penting dalam sejarah perkembangannya, yaitu tentangan dari kaum reformis (aliran Prostestan) dan penyebaran agama di negeri  lain yang baru ditemukan sebagai hasil berkembang ilmu dan pengetahuan di Eropa.
Pada abad ke 17 telah berkembang kegiatan propaganda dengan cara yang baru dengan ditemukannya alat/mesin cetak  Para Kaisar pendukung aliran Katholik menggunakan surat selebaran  yang berisikan seruan kepada  para pangeran beserta pengikutnya pendukung aliran Protestan agar menghentikan perjuangan mereka, karena hanya akan sia sia  dan sebaiknya menyerah segera. Thema kegiatan propaganda semacam ini kita kenal sebagai Psychological Warfare.

Kegiatan Propaganda Zaman abad ke 19

Pada abad ke 19 tercatat tiga macam perkembangan dalam bidang propaganda, yaitu :
1.      Propaganda di masa berkuasanya Napoleon Bonaparte, sebagai Kaisar Perancis tahun 1804 sampai dengan 1815.
Di masa keemasannya, Napoleon Bonaparte melancarkan propaganda yang bertujuan menumbuhkan pendewaan terhadap dirinya, baik di Perancis sendiri, maupun di daerah daerah yang dikuasainya di Eropa.
Pada awalnya, usaha propaganda seperti ini berhasil. Ia dipuja bukan saja sebagai seorang militer yang jenius, tetapi juga sebagai seorang Pembebas yang Agung. Akan tetapi setelah ia menyatakan dirinya sebagai Kaisar Perancis, maka nama harumnya makin berkurang dan terus memudar. Para pemujanya mulai menjauhinya, termasuk Ludwig van Beethoven seorang komponis termasyhur.

Titik berat kegiatan Propaganda di masa Imperium Napoleon Bonaparte adalah penekanan terhadap kebebasan kebebasan mengeluarkan pendapat, khususnya penyampaian pemberitaan dan pendapat melalui sensor yang ketat.



 Napoleon Bonaparte (1769-1821);
Masa berkuasa 1804-1815.
Sumber : http//www.oceanbridge.com




George Washington
Sumber : www.wordpress.com



2.      Propaganda dalam Perang Saudara di Amerika tahun 1776 sampai dengan 1778.

Kegiatan propaganda pada waktu berlangsungnya Perang Saudara  di Amerika Serikat tahun 1776-1778 adalah hal yang menarik untuk dikaji. Pada waktu itu kedua belah pihak yang berperang, baik Pihak Utara maupun Pihak Selatan berusaha untuk membujuk pihak luar, khususnya Inggris, dengan tujuan untuk mendapatkan bantuan dan simpati yang diperlukan dalam upaya untuk menyelesaikan perang tersebut.

Pihak Selatan dengan sengaja menyebarkan desas desus tentang kekejaman orang Negro yang bangkit memberontak terhadap orang kulit putih. Tujuan rumor ini adalah untuk membangkitkan rasa sentiment (Hate Rumor) di kalangan orang orang Inggris yang mempunyai keluarga di benua Amerika.

Di masa itu propaganda dengan menggunakan rumor merupakan kegiatan yang khas di Amerika, bahkan George Washington sendiri, tanpa ragu ragu ragu ikut serta dalam kegiatan penyebaran rumor tersebut.

Washington menganjurkan kepada kawan seperjuangannya, agar penyebaran desas desus itu dilakukan dengan cara bercerita di rumah rumah makan dengan pura pura merahasiakannya, tetapi cukup jelas didengar oleh para pelayan dan membiarkan cerita yang dibuat buat itu menyebar dengan sendirinya.

3.      Tumbuhnya Commercial Propaganda yang modern.

Pada akhir abad ke 19, media massa mulai berkembang dengan pesat. Munculnya surat kabar dan film, yang kemudian disusul oleh terciptanya pesawat radio pada tahun 1920.

Media massa baru tersebut merupakan saluran yang dapat digunakan untuk berbagai kegiatan komunikasi massa, seperti Publicity, Advertising, Penerangan, Public Relations, Propaganda dan lain lain.

Propaganda komersial adalah untuk kepentingan barang barang produksi.

Kegiatan Propaganda Zaman Perang Dunia

Dalam Perang Dunia yang pertama dan kedua, pihak pihak yang berperang semakin lama semakin tersesat dalam melancarkan  kegiatan propagandanya masing masing, sehingga akhirnya para propagandis tidak lain adalah hanya seorang pembohong, yang memutarkan balikkan fakta serta memalsukan keadaan dan membuat cerita palsu.
Setelah perang berakhir, para propagandis Sekutu/Allied Forces yang menyebut diri mereka sebagai “Produk dari Rasionalisme” menjadi muak terhadap gejala yang tidak sehat tersebut. Mereka begitu terperanjat ketika menyadari bahwa kegiatan mereka itu adalah sangat buruk. Beberapa diantara mereka membuat “autobiographis” yang menceritakan tentang kegiatan mereka di bidang propaganda.
Menurut William Albig bahwa , penulis dari  “Falsehood in War time”, Sir Arthur Ponsonby, dengan menyesal mengungkapkan bahwa di masa peperangan, maka hal kebenaran dan kejujuran merupakan korban pertama. Kepalsuan adalah senjata yang paling ampuh dalam peperangan dan tiap Negara menggunakannya secara terang terangan untuk menipu rakyatnya sendiri, menarik kaum netral dan untuk menyesatkan musuh.